Selasa, 18 Maret 2008

Diknas Minim Data

Kasus lolosnya guru-guru yang seharusnya tidak disertifikasi kembali disorot. Haris A. Syafrudie, salah satu anggota tim sertifikasi Depdiknas dari UM mengimbau seluruh Diknas melakukan pendataan ulang guru. Langkah ini akan memudahkan penunjukan guru yang masuk sertifikasi.

Teknisnya, pendataan tersebut tidak hanya soal nama, jabatan, atau nomor unik yang dimiliki. Tapi diharapkan lebih detil. Terutama dari aspek masa kerja dan usia. Selanjutnya data-data itu bisa dirangkum dalam data based tenaga kependidikan. "Saya melihat, selama ini bukan data based yang digunakan acuan. Tapi langsung pembagian angka," ujar Haris.

Karena kesalahan itu, akhirnya semua guru berlomba untuk mengikuti sertifikasi. Padahal, sesuai kesepakatan awal, guru dengan masa kerja di atas 20 tahun menjadi prioritas. "Ini tidak akan terjadi kalau ada data based," tegas dosen UM itu.

Padahal, kata dia, data based akan merangking guru sesuai masa kerja dan usia. Praktis, ketika kuota sertifikasi turun, Diknas tinggal memotong data sesuai kebutuhan. Dalam hal ini, data yang dipotong adalah ranking atas. Sedangkan data ranking bawah mendapat giliran selanjutnya. "Yang tua-tua harus dihabiskan dulu, baru menyusul guru muda," kata dia.

Haris kurang sepakat jika bobolnya seleksi di tingkatkan Diknas karena sosialisasi tak mengena. Tapi, karena data pendidik yang dimiliki Diknas tidak rinci. "Kasus ini hampir terjadi di semua wilayah. Bahkan, Kota Malang termasuk salah satunya," ucapnya.

Lebih lanjut, dosen yang juga pengamat pendidikan itu menjabarkan, jika kuota 2006 dan 2007 masih banyak guru yang "bermain", untuk kuota 2008 akan diperketat. Kesepakatan pendampingan seleksi kuota di Diknas tidak bisa ditawar lagi. Saat ini tim sertifikasi pusat sedang menggodok draf dan teknis pendampingan. "Dengan sistem baru ini, guru yang tak masuk sertifikasi langsung langsung dikembalikan," tandasnya.

Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Malang (DPKM) Soeparto mendukung kebijakan Depdiknas yang melibatkan DPKM dalam sertifikasi. Kebijakan tersebut merupakan keberanian untuk menyukseskan jalankan sertifikasi agar berjalan lebih fair. Apalagi, kebijakan tersebut turut menentukan nasib guru yang memang berhak mendapatkan kesempatan sertifikasi."Tapi kami belum tahu teknis pelaksanaan nanti seperti apa. Pastinya, kebijakan itu menjadi kontrol ke Diknas agar lebih objektif dalam menentukan urutan peserta sertifikasi," ujar dosen UMM ini.

Senin, 10 Maret 2008

HASIL TRY OUT 2 DIKNAS KOTA MALANG

Baru beberapa hari ini SMA Negeri 9 Malang mendapat hasil Try out yang diadakan oleh Diknas Kota Malang.
kabar yang cukup menggembirakan adalah angka rawan tidak lulus begitu sedikit, tercatat hanya satu anak yang rawan tidak lulus untuk mata pelajaran ekonomi.
Namun hal tersebut bukanlah ukuran kalau rawan tidak lulus memang hanya anak sedikit, Faktor soal "mudah" mungkin adalah alasan utama dari tingkat keberhasilan seorang anak mengerjakan soal dengan baik.
nah coretan sedikit ini mungkin mampu diperhatikan anak didik untuk mencapai nilai maksimal dalam UAN 2008
selamat belajar guys, doa dan harapan menyertai kamu sekalian
pengen tahu nilai anda..... sabaaaar ya .pak Budi lagi repot nich.... klo enggak hub waktu sekolah ya

TUNJANGAN SERTIFIKASI KOTA MALANG

Guru di lingkungan Diknas Kota Malang yang dinyatakan lolos sertifikasi 2007 diharapkan lebih bersabar lagi. Kabar bakal diterimanya tunjangan profesi mulai Maret ini ternyata sampai kini belum kunjung ada kejelasan. Bahkan, Diknas Kota Malang juga belum mendapatkan petunjuk kapan kepastian dana tersebut cair.

"Memang kami menerima pemberitahuan kalau pemberian tunjangan profesional kuota 2007 cair mulai Maret. Tapi kenyatannya masih nihil. Tadi pagi (kemari, Red) saya telepon ke Provinsi Jatim, ya tetap belum ada kejelasan," ujar Kabid Fungsional Diknas Kota Malang Zubaidah.

Beberapa guru yang lulus juga ada yang telah mempertanyakan kejelasannya kapan tunjangan profesional tersebut turun. Namun, karena memang belum kepastian, Diknas pun hanya bisa menyampaikan imbauan agar mereka bersabar. "Kapan turun pasti kami langsung menyosialisasikan ke sekolah. Kami juga tidak mungkin menunda-menunda, karena itu hak mereka," ungkapnya.

Hanya saja Ida -begitu dia biasa disapa- sedikit membawa kabar gembira. Pada 13 Marei ini bakal ada rakor (rapat koordinasi) di Surabaya. Harapannya, pada rakor tersebut bakal ada kejelasan tentang tunjangan profesi turun. Termasuk juga sertifikasi untuk pengawas yang bakal dimulai 2008. Berdasarkan pemberitahuan informal, pemerintah pusat sudah memutuskan akan ada sertifikasi untuk pengawas.

Tentang peserta sertifikasi kuota 2006 yang belum menerima tunjangan, lanjut Ida, tak bisa memberikan jumlah pastinya. Meski sebelumnya ada 15 guru kuota 2006 yang belum menerima tunjangan profesi guru. "Kalau pun ada guru yang belum menerima, lebih pada persoalan teknis. Misalnya, nomor rekening yang terblokir atau belum mengecek lagi ke bank. Karena prinsipnya semua dana dari pemberitahuan pemerintah pusat semuanya sudah beres," ucapnya.

Persoalannya juga, beberapa guru yang dulunya mengaku belum menerima tunjangan profesi, tapi dalam perkembangan mereka tidak melapor lagi. Dengan begitu sulit untuk mendata ulang berapa guru yang belum bisa mencairkan tunjangan profesional tersebut. (hap/ziz)

Jumat, 07 Maret 2008

KUOTA SERTIFIKASI GURU KOTA MALANG PER MARET 2008

Untuk Kota dan Kabupaten, Pengawas Belum Jelas
MALANG - Kuota sertifikasi guru untuk Kota Malang dan Kabupaten Malang mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu. Tahun ini kuota Kota Malang mencapai 1.180 guru. Sedangkan kabupaten mencapai 1.807 guru atau naik 536 guru dibandingkan tahun lalu.

Data dari Diknas Kota Malang, guru TK dijatah 73 guru, SD 418 guru, SMP 261, SLB 6 guru, SMA 204 guru, SMK 218 guru. "Jumlah itu sudah pasti. Nantinya kami sosialisasikan kepada sekolah dan guru agar mempersiapkan diri," ujar Kabid Fungsional Diknas Kota Malang Zubaidah, di kantor kemarin.

Menurut Ida, begitu dia biasa disapa, jumlah tahun ini ternyata lebih besar dibandingkan kuota tahun sebelumnya. Kuota tahun sebelumnya berada pada kisaran 800 guru untuk semua tingkatan sekolah. "Kami senang karena tidak ada pengurangan. Ya, mungkin karena sertifikasi tujuannya untuk peningkan kompetensi guru," tambah Ida.

Ditambahkan, rencananya pelaksanaan sertifikasi dilakukan pada akhir Maret. Namun, soal kepastian waktunya dia belum mendapat tembusan dari BPSG maupun Depdiknas.

Bagaimana dengan kuota pengawas? Diknas Kota Malang menyatakan belum tahu. Bahkan, sampai juga masih menunggu informasi lebih lanjut. "Saat rakor (rapat koordinasi) di Surabaya beberapa hari lalu hanya diberitahu kalau pengawas akan disertifikasi. Masalah teknis pelaksanaan dan lain-lain akan dimatangkan pada rakor berikutnya," ujar dia

Kadiknas Kota Malang Shofwan MSi menyatakan gembira dengan adanya kenaikan kuota untuk sertifikasi guru. "Bagaimanapun, kenaikan kuota ini untuk mempercepat penyelesaian sertifikasi guru," tambahnya.

Soal pengawas yang akan disertifikasi, dia meminta pengawas bekerja lebih maksimal. Karena, setelah mereka nanti lulus sertifikasi otomatis kinerjanya tak bisa sembarangan. "Tapi bukan berarti sebelum pengawas disertifikasi Diknas tidak kontrol terhadap kinerja mereka. Maksudnya, secara pribadi mereka juga memiliki tanggung jawab yang lebih besar," ujar Shofwan.
"Memang Kota dan Kabupaten Malang mengalami kenaikan dibandingkan tahun lalu," ujar Ketua BPSG Rayon 15 UM Mudjianto, kemarin. (JP jumat)

Rabu, 27 Februari 2008

ANGKA RAWAN TIDAK LULUS 25 %

MALANG - Diknas Kabupaten Malang meminta guru SD hingga SMA untuk lebih intensif dalam memberikan materi UN bidang studi IPA dan matematika. Kedua mata pelajaran tersebut menjadi prioritas, karena dari hasil try out pertama yang digelar Januari lalu banyak siswa tidak bisa mengerjakan soal. "Secara umum hasil dari try out kurang memuaskan. Rata-rata kelulusannya baru 75 persen," ujar Kepala Dikbud Kabupaten Malang Suwandi, ketika dikonfirmasi kemarin.

Suwandi mengatakan, angka kelulusan sebesar 75 persen dari try out pertama dinilai masih wajar. Karena soal yang diberikan kepada siswa terbilang rumit. Mayoritas soal yang diberikan sama dengan UN tahun lalu. "Hal itulah yang membuat siswa kesulitan dalam menjawab soal yang diberikan," terangnya.

Meski demikian, dengan hasil tersebut diknas khawatir apabila tidak ada persiapan yang matang sebelum pelaksanaan UN, maka angka kelulusan yang diraih pada 2007 lalu sebesar 95 persen akan mengalami penurunan. Padahal tahun ini diknas mematok angka kelulusan naik 2 persen atau menjadi 97 persen.

Selain pemberian materi UN untuk matematika dan IPA, Suwandi mengharapkan sekolah lebih sering melakukan try out. Langkah ini diperlukan agar para siswa terbiasa untuk belajar soal. "Minimal per sekolah melakukan try out empat kali," pintanya.

Terkait hasil mata pelajaran bahasa Inggris, Suwandi mengatakan bahwa rata-rata siswa sudah bisa mengerjakan. Namun demikian, guru bahasa Inggris juga harus tetap memberikan porsi materi yang setara dengan soal-soal yang akan keluar dalam UN nanti. Minimal sesuai dengan materi UN tahun lalu. "Kami yakin jika siswa mampu mengerjakan soal UN tahun lalu, target kelulusan 97 dapat terpenuhi," tegasnya. (gus/ziz)

Senin, 25 Februari 2008

WASPADAI JUALAN KOMPOR

MALANG - Munculnya keberatan soal aturan 24 jam tatap muka dalam satu minggu bagi guru yang lulus sertifikasi mengundang keprihatinan DPKM (Dewan Pendidikan Kota Malang). Bagaimanapun guru tidak bisa dibiarkan tanpa aturan, karena bisa mengganggu pengembangan pendidikan. Bukan hanya Kota Malang, namun juga secara keseluruhan.

"Dengan penyelenggaraan sertifikasi, guru memang sedang bersekutu dengan dewa mabuk reformasi. Guru pun terjebak dalam iklim reformasi. Artinya, dalam skala tertentu guru seakan mendapatkan kebebasan," ungkap Drs Soeparto MPd, sekretaris I DPKM.

Kondisi ini, kata Parto -demikian dia disapa- tidak bisa dibiarkan. Aksi keberatan yang mereka sampaikan perlu kembali direnungkan lagi. Sebab, aturan mengajar 24 jam tatap muka dalam satu minggu sudah cukup relevan untuk dijalankan. Terlebih lagi aturan tersebut berlaku pada mereka yang notabenenya sudah memegang sertifikat kompetensi.

Memahami pro kontra ini, Parto mengingatkan pentingnya melihat profesi guru yang dikembalikan pada khittahnya. Garis besarnya, guru bekerja bukan untuk mencari laba. "Kalau dalam istilah saya guru bekerja atas dasar G-spot based profession. G-spot di sini bukan bagian dari alat reproduksi wanita," kata Parto.

Istilah G-spot, kata dia, berasal dari God-spot yang ditemukan oleh Dr Vilayanur Ramachandran dari Universitas California, yang berarti titik kesadaran manusia atas Tuhannya. "Berdasarkan itu, guru bekerja atas nilai dasar rasa keikhlasan dan kasih sayang dengan tujuan mengubah perilaku seseorang," ungkapnya.

Perubahan perilaku seseorang, lanjut dia, hanya bisa dilakukan secara optimal lewat kasih sayang. "Jadi tak perlu heran kalau ada fenomena guru yang mau mengajar walau tak dibayar," katanya.

Tetapi dalam perkembangannya, lingkungan tidak bisa membatasi profesi guru sehingga banyak yang salah kamar dengan segala plus minusnya. Misalnya, jika guru yang dominan daya ototnya, maka dia akan menjadi guru yang cenderung memberi hukuman fisik bagi siswa.

Bahayanya, jika golongan thought-based profession menyusup menjadi guru. Golongan ini lebih menekankan pada olah pikir dan adu argumentasi. Tujuan jangka pendeknya adalah mempengaruhi pola pikir orang lain agar sejalan dengannya dengan target jangka panjang menguasai orang lain. "Kalau ini menyusup menyusup jadi guru, bahayanya mereka bisa jadi provokator. Hobinya jualan "kompor" untuk guru-guru lainnya," ucapnya. (hap/ziz)

Jumat, 22 Februari 2008

RAWAN TIDAKLULUS MASIH TINGGI

Tinggi, Tak Lulus SMP-SMA

Angka rawan tak lulus ujian nasional (UN) SMA dan SMP Kota Malang cukup tinggi. Dari pemetaan sementara yang dilakukan Diknas Kota Malang, angka rawan tak lulus UN SMP mencapai 54,84 persen dari total nominasi sementara (DNS) UN SMP 10.786 siswa. Sementara angka rawan untuk tingkat SMA lebih tinggi lagi karena mencapai 64,76 persen dari total DNS 6.330 siswa.

Kasi Dikmen Diknas Kota Malang Drs Suyitno mengatakan, pemetaan sementara itu didasarkan pada data-data siswa kelas akhir di semua sekolah. Termasuk, hasil try out sementara. "Dibanding tahun lalu, angka rawan itu sangat tinggi," kata dia.

Suyitno menjelaskan, dari analisa sementara juga, tingginya angka rawan itu disebabkan karena adanya mata pelajaran tambahan. Untuk SMP misalnya, yang semula hanya bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika, kini ada tambahan IPA. Begitu juga untuk SMA yang mendapat tambahan tiga mata pelajaran untuk masing-masing jurusan. "Kondisi ini, bisa saja karena siswa kurang persiapan matang. Di lain hal, mata pelajaran tambahan juga cukup berat," ucapnya.

Bahkan, jika dipukul rata, lanjut Yitno-sapaan akrab Suyitno, tingkatan angka rawan itu terdapat di mata pelajaran (mapel) yang sama. Urutan paling atas adalah fisika, kedua matematika, disusul kimia, bahasa Inggris, dan biologi. Sedangkan Bahasa Indonesia nyaris tak ada kendala. Sebagai contoh, hasil try out di SMAN I, fisika menjadi mapel terberat karena banyak siswa tak memenuhi angka minimal 5,25. Begitu juga di SMAN 12. Bahkan, perbandingan angka tak lulus di bidang fisika dan matematika mencapai 32:22.

"Pemetaan sementara ini menunjukkan, bahwa semua sekolah harus mempersiapkan diri lebih ekstra," kata dia.

Diknas sendiri, kata Yitno, telah menyampaikan hasil pemetaan tersebut ke semua sekolah. Dengan begitu, sekolah-sekolah bisa mengadakan pembinaan lebih awal karena potensi siswa telah tergambar. Termasuk, bisa melakukan bimbingan lebih intensif. Sedangkan bagi MKKS (musyawarah kerja kepala sekolah) harus membuat format try out UN kedua untuk melihat keberhasilan usaha sekolah.

"Try out bersama dijadwalkan tiga kali. Sedangkan langkah sekolah diserahkan ke masing-masing lembaga," tandasnya.

Sementara itu, dari prediksi yang terpantau di SMA Negeri 9 Malang didapat sekit 102 anak yang rawan tidak lulus.